Informasi Kesehatan dan Email


Informasi tentang Pelayanan Kesehatan bisa di upload/download melalui email bidang pelayanan medis : bidyanmed@gmail.com 

Informasi Kesehatan tentang Cegah Kanker Payudara

Kanker payudara menduduki peringkat pertama penyebab kanker pada perempuan di Indonesia dan lebih dari 80% kasus yang ditemukan sudah berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan menjadi sulit dilakukan. Menurut Badan Kesehatan Dunia, satu dari dua pasien kanker payudara akan meninggal dunia karena terlambat ditangani.

Kanker payudara sangat berbahaya dan harus diwaspadai sejak dini. Meskipun demikian, kanker payudara dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat, rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dilakukan oleh setiap perempuan dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga kesehatan terlatih. Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) 2016 memperlihatkan perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah, dimana 53,7% masyarakat tidak pernah melakukan SADARI, sementara 46,3% pernah melakukan SADARI; dan 95,6% masyarakat tidak pernah melakukan SADANIS, sementara 4,4% pernah melakukan SADANIS.

 FAKTOR RESIKO KANKER PAYUDARA

  1. Perokok aktif dan pasif
  2. Pola makan buruk
  3. Usia haid pertama di bawah 12 tahun
  4. Perempuan tidak menikah
  5. Perempuan menikah tidak memiliki anak
  6. Melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun; tidak menyusui
  7. Menggunakan kontrasepsi hormonal dan atau mendapat terapi hormonal dalam waktu lama
  8. Usia menopause lebih dari 55 tahun
  9. Pernah operasi tumor jinak payudara
  10. Riwayat radiasi 
  11. Rwayat kanker dalam keluarga.

PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI)

Setiap perempuan dianjurkan untuk melakukan SADARI secara berkala setiap bulan sejak usia 20 tahun sehingga dapat membantu untuk mengetahui adanya perubahan pada payudara sebelum munculnya tanda atau gejala yang mencurigakan adanya kanker payudara.  SADARI dan SADANIS dapat dilakukan setiap bulan pada hari ke 7 hingga ke 10 terhitung dari hari pertama haid karena pada saat tersebut payudara sedang mengendur dan terasa lebih lunak. Jika mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur atau telah mengalami menopause atau pengangkatan Rahim maka SADARI sebaiknya dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulannya. Sementara untuk ibu menyusui, SADARI dapat dilakukan setelah menyusui atau memompa ASI.

SADARI terdiri dari beberapa langkah :

1. Pengamatan pada cermin

     Berdiri di depan cermin dengan posisi bahu lurus, posisi tangan diletakkan di pinggul dengan bahu condong kedepan, dan posisi angkat kedua lengan dan letakkan di belakang kepala dengan siku didorong ke depan. Amati ukuran, bentuk dan warna payudara, serta perhatikan apakah ada perubahan yang mudah terlihat atau pembengkakan.

 

 

2. Perabaan pada posisi berdiri

     Angkat lengan kanan ke belakang kepala, lalu gunakan jari-jari tangan kiri untuk melakukan perabaan pada payudara sebelah kanan. Lakukan langkah sebaliknya untuk melakukan perabaan pada payudara sebelah kiri.

 

 3.  Perabaan pada posisi berbaring

     Berbaring di atas permukaan yang keras. Untuk melakukan perabaan payudara sebelah kanan, letakkan bantal di bawah pundak kanan dan letakkan lengan kanan di belakang kepala. Ratakan jari-jari tangan kiri pada payudara kanan, dan tekan secara lembut dengan gerakan memutar searah jarum jam. Mulailah dari bagian paling puncak dari payudara kanan (posisi jam 12), kemudian bergerak ke arah jam 10 dan seterusnya hingga ke posisi jam 12. Setelah itu, pindahkan jari-jari sekitar 2 cm mendekati puting, teruskan gerakan memutar seperti sebelumnya hingga semua bagian payudara, termasuk puting selesai diraba. Lakukan hal yang sama untuk payudara sebelah kiri.

 

 Perlu diperhatikan untuk melakukan SADARI yang benar adalah mengunakan buku jari dari ketiga jari tengah, bukan ujung jari. Dianjurkan mengulang-ulang gerakan melingkar dengan buku jari disertai dengan sedikit penekanan, namun hati-hati karena tekanan yang berlebihan menyebabkan tekanan pada tulang rusuk dan akan terasa seperti benjolan.

 Perubahan yang dapat dilihat sebagai kelainan dan perlu mendapat perhatikan adalah :

 1. Perubahan bentuk dan ukuran payudara.

 2. Teraba benjolan.

 3. Nyeri.

 4. Penebalan kulit.

 5. Terdapat cekungan kulit seperti lesung pipit.

 6. Pengerutan kulit payudara.

 7. Keluar cairan dari putting susu.

 8. Penarikan putting susu ke dalam.

 9. Luka pada payudara yang tidak sembuh-sembuh.

PERIKSA PAYUDARA KLINIS (SADANIS)

Pemeriksaan payudara oleh tenaga medis sebaiknya dilakukan oleh perempuan usia 20 - 39 tahun minimal setiap 3 tahun dan perempuan usia 40 tahun keatas minimal setahun sekali atau apabila ditemukan adanya kelainan pada proses SADARI. Jika terdapat perubahan terhadap payudara yang dicurigai ke arah kanker payudara maka tenaga medis akan memberikan rekomendasi untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan berupa mammografi, ultrasonografi, melakukan biopsi atau pengambilan jaringan dari payudara untuk memastikan kelainan atau perubahan tersebut merupakan suatu keganasan. 

PENUTUP

Pemeriksaan payudara sendiri maupun oleh tenaga medis sangat membantu untuk menemukan kanker payudara secara dini. Semakin cepat kanker diketahui maka keberhasilan pengobatan akan semakin besar. Penyebaran informasi tentang cara deteksi dini kanker payudara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran wanita dalam membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara yang masih tinggi karena keterlambatan dalam berobat (datang dengan kanker payudara stadium lanjut).

 

Artikel oleh :

 

dr. Rismauli Doloksaribu, Sp.PD - KHOM

 

 

 

 

FB Fan Page